
Wafatnya Rasulullah ﷺ
Tidak lama sepulang Haji Wada', Nabi jatuh sakit. Ketika tidak lagi kuat mengimami shalat, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam.
Pada hari Senin, dua belas Rabi'ul Awwal tahun kesebelas Hijriyah, saat shalat subuh berlangsung, beliau menyingkap tirai kamar Aisyah. Melihat umatnya rapi dalam barisan shalat, beliau tersenyum gembira. Karena amalan yang paling beliau cintai, adalah shalat.
Sakit beliau memuncak. Beliau mengusap wajah dengan air, seraya berucap, "Laa ilaaha illallah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya." Lalu terdengar lirih ucapan terakhirnya: "Allahumma ar-rafiiqal a'laa." Ya Allah, pertemukan aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi.
Beliau wafat di pangkuan Aisyah, pada usia enam puluh tiga tahun.
Madinah gelap oleh duka. Umar yang perkasa tidak sanggup menerima kabar itu. Namun Abu Bakar tampil menenangkan umat dengan kalimat yang abadi: "Barangsiapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati."
Ibadah kita hanya kepada Allah Yang Maha Hidup. Dan cinta kita kepada Nabi, kita wujudkan dengan meneruskan risalahnya.
- Wafat: Senin, 12 Rabi'ul Awwal 11 H, usia 63 tahun, di pangkuan Aisyah
- Ucapan terakhir: "Allahumma ar-Rafiiqal A'laa"
- Imam shalat pengganti di akhir hayat beliau: Abu Bakar
- Dikafani 3 kain putih; dimakamkan di kamar Aisyah, malam Rabu
Detik-detik wafat beliau diriwayatkan dari Aisyah dalam hadits-hadits shahih (HR. Bukhari dan Muslim). Khutbah Abu Bakar dan QS. Ali Imran: 144: HR. Bukhari.
- 1Sekalipun kekasih Allah, beliau tetap merasakan sakaratul maut — kematian adalah kepastian bagi setiap jiwa.
- 2Ibadah kita kepada Allah Yang Maha Hidup, bukan kepada makhluk; inilah tauhid yang beliau wariskan.
- 3Cinta kepada Nabi diwujudkan dengan meneruskan risalahnya, bukan sekadar tangisan.