
Perang Tabuk dan Tahun Delegasi
Pada tahun kesembilan Hijriyah, tersiar kabar bahwa Romawi menyiapkan pasukan besar di perbatasan utara. Nabi menyerukan seluruh kaum muslimin berangkat menuju Tabuk. Perjalanan yang sangat jauh, di puncak musim panas, dan di masa paceklik. Pasukan ini pun dijuluki Jaisyul 'Usrah, pasukan di masa sulit.
Para sahabat berlomba berinfak. Utsman bin Affan menanggung perlengkapan sepertiga pasukan. Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya. Umar menyerahkan separuh hartanya. Sedangkan kaum munafik, sibuk mencari-cari alasan untuk tidak berangkat.
Pasukan Romawi ternyata tidak jadi datang, dan kaum muslimin kembali dengan wibawa yang semakin kokoh.
Sekembalinya ke Madinah, tiga sahabat yang jujur mengakui kesalahannya karena tertinggal tanpa alasan, diboikot selama lima puluh hari. Di antaranya Ka'ab bin Malik. Bumi yang luas terasa sempit bagi mereka, hingga Allah menurunkan ayat yang menerima taubat mereka.
Setelah Tabuk, kabilah-kabilah dari seluruh penjuru Arab berdatangan menyatakan keislaman. Tahun itu dikenal sebagai 'Amul Wufud, Tahun Delegasi. Manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong.
Iman terlihat jelas di saat kondisi sulit. Dan kejujuran mengakui kesalahan, berbuah ampunan.
- Rajab 9 H: Perang Tabuk (Jaisyul 'Usrah) — ujian terberat: jauh, panas, paceklik
- Infak terbesar: Utsman; Abu Bakar (seluruh harta), Umar (separuh)
- Taubat Ka'ab bin Malik dkk diterima (QS. At-Taubah: 118); masjid dhirar dirobohkan
- Tahun 9–10 H: 'Amul Wufud (Tahun Delegasi); Abu Bakar memimpin haji 9 H
Kisah taubat Ka'ab bin Malik diriwayatkan panjang dan menyentuh dalam hadits shahih (HR. Bukhari no. 4418, Muslim no. 2769).
- 1Iman terlihat jelas saat kondisi sulit: yang jujur berangkat dan berinfak, yang munafik beralasan.
- 2Kejujuran mengakui kesalahan — seperti Ka'ab bin Malik — berbuah ampunan; dusta hanya menunda kehancuran.