
Perang Hunain dan Pengepungan Thaif
Belum genap sebulan setelah Fathu Makkah, kabilah Hawazin dan Tsaqif menghimpun kekuatan besar. Kaum muslimin berangkat dengan dua belas ribu pasukan, jumlah terbesar sepanjang sejarah mereka. Sebagian berkata, "Kita tidak akan kalah, karena jumlah kita banyak."
Namun di lembah Hunain, pasukan panah musuh menyergap dari ketinggian di pagi buta. Barisan kaum muslimin kocar-kacir.
Di saat yang genting itu, Nabi tetap kokoh di atas tunggangannya. Beliau justru maju ke arah musuh, sambil menyeru dengan lantang: "Aku adalah Nabi, tidak ada dusta! Aku putra Abdul Muththalib!"
Para sahabat kembali berhimpun. Allah menurunkan ketenangan dan pertolongan-Nya, hingga kemenangan diraih. Al-Qur'an mengabadikan pelajarannya: jumlah yang banyak, sedikit pun tidak berguna, jika hati bersandar kepada selain Allah.
Dalam pembagian harta rampasan, kaum Anshar tidak mendapat bagian, hingga sebagian mereka bersedih. Maka Nabi menyampaikan pidato yang membuat mereka menangis: "Tidakkah kalian ridha, orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah ke rumah-rumah kalian?"
Kecintaan kepada Rasulullah, jauh lebih berharga daripada seluruh harta dunia.
- Syawwal 8 H: Perang Hunain (12.000 pasukan) lalu pengepungan Thaif
- Pelajaran Hunain: jumlah banyak tidak menjamin menang (QS. At-Taubah: 25)
- Nabi tetap teguh: "Aku adalah Nabi, tidak ada dusta"
- Tahun 8 H juga: wafat Zainab putri Nabi; lahir Ibrahim putra Nabi
Seruan Nabi di Hunain: HR. Bukhari no. 2864 dan Muslim no. 1776. Pidato kepada Anshar: HR. Bukhari dan Muslim.
- 1Bersandar kepada jumlah dan kekuatan adalah awal kekalahan; bersandar kepada Allah adalah awal kemenangan.
- 2Kecintaan kepada Rasulullah lebih berharga daripada seluruh harta rampasan dunia.