
Fathu Makkah: Pembebasan Kota Suci
Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Maka pada bulan Ramadhan tahun kedelapan Hijriyah, Nabi bergerak menuju Makkah, memimpin sepuluh ribu pasukan. Kota yang dahulu mengusirnya, kini didatangi tanpa mampu melawan.
Beliau memasuki Makkah bukan dengan keangkuhan seorang penakluk. Beliau masuk dengan kepala tertunduk penuh kerendahan hati di atas untanya, sambil membaca surat Al-Fath.
Ratusan berhala di sekeliling Ka'bah dirobohkan, sambil beliau membaca ayat: "Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."
Lalu tibalah saat yang mendebarkan. Penduduk Makkah, yang dahulu menyiksa dan mengusir beliau, kini menunggu keputusan. Beliau bertanya, "Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?" Mereka menjawab, "Kebaikan. Engkau saudara yang mulia, putra saudara yang mulia."
Dan beliau bersabda: "Pergilah. Kalian semua bebas."
Tidak ada balas dendam. Berbondong-bondong penduduk Makkah masuk Islam. Dan Bilal, mantan budak yang dulu disiksa di kota ini, naik ke atas Ka'bah, mengumandangkan adzan.
Itulah kemenangan yang sejati: ketika musuh berubah menjadi saudara seiman.
- Ramadhan 8 H: Fathu Makkah dengan 10.000 pasukan, nyaris tanpa pertumpahan darah
- Sebab: Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah
- Berhala dihancurkan; penduduk Makkah dimaafkan ("kalian semua bebas")
- Bilal adzan di atas Ka'bah
Setelah Fathu Makkah Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada hijrah setelah Fathu (Makkah), tetapi (yang tersisa adalah) jihad dan niat." (HR. Bukhari no. 2783, Muslim no. 1353)
- 1Puncak kekuatan justru ditampilkan dengan puncak kerendahan hati dan pemaafan.
- 2Kemenangan sejati adalah ketika musuh berubah menjadi saudara seiman.