Bab 23PERIODE MADINAH

Perang Mu'tah

Mu'tah (wilayah Syam) · Jumadil Ula 8 H (usia 61 tahun)1 menit baca
Dengarkan narasi
0:000:00
Ukuran huruf

Ketika utusan Nabi dibunuh oleh penguasa wilayah Syam, beliau mengirim pasukan tiga ribu orang, menghadapi kekuatan Romawi yang berlipat-lipat jauh lebih besar, di sebuah tempat bernama Mu'tah.

Beliau menetapkan urutan panglima. Pertama, Zaid bin Haritsah. Jika ia gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib. Jika ia gugur, maka Abdullah bin Rawahah.

Dan takdir berbicara. Satu per satu, ketiganya gugur syahid, persis dalam urutan itu. Ja'far bahkan terus memeluk bendera dengan kedua tangannya, hingga kedua tangannya terputus. Allah menggantinya dengan dua sayap di surga, sehingga ia digelari Ja'far ath-Thayyar, Ja'far yang terbang.

Dari Madinah, dengan wahyu dari Allah, Nabi mengabarkan jalannya pertempuran kepada para sahabat, sambil berlinang air mata. "Hingga bendera diambil oleh sebilah pedang, dari pedang-pedang Allah. Dan Allah membukakan kemenangan melalui tangannya."

Dialah Khalid bin Walid, yang dengan kecerdikannya menyelamatkan pasukan. Sejak itu, Khalid digelari Saifullah. Pedang Allah.

Para sahabat berlomba menuju syahid, karena mereka yakin akan janji Allah.

  • Jumadil Ula 8 H: Perang Mu'tah melawan Romawi; pasukan muslimin 3.000 orang
  • Tiga panglima gugur berurutan: Zaid → Ja'far → Abdullah bin Rawahah
  • Khalid bin Walid menyelamatkan pasukan → digelari Saifullah (Pedang Allah)

Kabar Nabi tentang gugurnya tiga panglima dan bendera yang diambil "pedang Allah": HR. Bukhari no. 4262.

  1. 1Para sahabat berlomba menuju syahid, bukan menuju jabatan — mereka yakin akan janji Allah.
  2. 2Mundur yang cerdas untuk menyelamatkan pasukan pun bagian dari strategi yang dipuji.
Uji Pemahaman
5 soal · lulus di nilai 80