
Hijrah ke Madinah
Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk berhijrah ke Madinah. Kaum Quraisy yang mengetahui rencana itu bersekongkol untuk membunuh beliau. Setiap kabilah mengirim seorang pemuda untuk mengepung rumah beliau.
Malam itu, Ali bin Abi Thalib berbaring di tempat tidur Nabi. Sementara beliau keluar rumah menembus kepungan para pemuda Quraisy, dengan penjagaan Allah. Beliau berangkat bersama sahabat karibnya, Abu Bakar ash-Shiddiq.
Untuk mengecoh pengejaran, keduanya bersembunyi tiga hari di Gua Tsur. Kaum kafir sampai tiba tepat di mulut gua. Abu Bakar cemas. Namun Nabi menenangkannya dengan kalimat yang abadi: "Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita."
Allah menjaga keduanya hingga selamat sampai di Madinah. Penduduk kota menyambut dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka telah lama menanti kedatangan beliau.
Peristiwa hijrah ini menjadi titik kebangkitan Islam, hingga para sahabat kelak menjadikannya awal penanggalan kalender Hijriyah.
Itulah tawakal yang sejati: berikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
- Hijrah setelah 13 tahun berdakwah di Makkah
- Teman perjalanan: Abu Bakar; penunjuk jalan: Abdullah bin Uraiqith
- Bersembunyi 3 hari di Gua Tsur
- Hijrah = titik awal kalender Hijriyah (ditetapkan di masa Umar)
Allah berfirman: "…ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, 'Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'" (QS. At-Taubah: 40). Kisah gua diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
- 1Tawakal sejati: berikhtiar maksimal (strategi, penunjuk jalan, persembunyian) lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
- 2Persahabatan Abu Bakar dan Nabi adalah teladan setia kawan dalam kebenaran.