
Perang Uhud
Setahun setelah kekalahan di Badar, Quraisy datang membalas dendam dengan tiga ribu pasukan. Kaum muslimin menyongsong mereka di kaki gunung Uhud. Nabi menempatkan lima puluh pemanah di atas bukit kecil, dengan pesan yang tegas: jangan tinggalkan posisi, apa pun yang terjadi.
Babak pertama dimenangkan kaum muslimin. Namun ketika melihat harta rampasan, sebagian besar pemanah turun meninggalkan posisi mereka. Celah itu dimanfaatkan pasukan berkuda Quraisy untuk menyerang dari belakang.
Keadaan pun berbalik. Tujuh puluh sahabat gugur syahid, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, sang Singa Allah. Nabi sendiri terluka. Gigi beliau patah, dan wajah beliau berdarah.
Namun dalam keadaan itu, beliau tidak melaknat. Beliau justru memaafkan.
Dari Uhud kita belajar pelajaran yang mahal: melanggar perintah pemimpin, walau tampak sepele, bisa mengubah kemenangan menjadi musibah. Dan kekalahan adalah cara Allah mendidik orang-orang beriman, agar tidak silau oleh dunia.
- Syawwal 3 H: Perang Uhud; ± 700 muslimin vs 3.000 Quraisy
- Sebab kekalahan: pemanah meninggalkan posisi di bukit
- 70 syuhada, termasuk Hamzah (± 56 tahun); gigi Nabi patah, wajah terluka
- Dilanjutkan Perang Hamra' al-Asad; tahun 3 H juga: lahirnya Hasan, haramnya khamer (pendapat masyhur)
Sabda beliau tentang kaum yang melukai nabinya: HR. Muslim no. 1791.
- 1Melanggar perintah pemimpin — walau tampak sepele — bisa mengubah kemenangan menjadi musibah.
- 2Kekalahan adalah tarbiyah dari Allah: kaum mukminin diuji agar tidak silau oleh dunia.