
Masa Kecil Sang Yatim
Sebagaimana kebiasaan bangsawan Arab, bayi Muhammad disusui oleh ibu susuan. Mula-mula oleh Tsuwaibah, lalu oleh Halimah as-Sa'diyyah di perkampungan Bani Sa'ad selama dua tahun. Sejak bayi mulia ini hadir, kehidupan keluarga Halimah dipenuhi keberkahan. Kambing-kambingnya menjadi gemuk, dan susunya melimpah.
Ketika berusia empat tahun, terjadilah peristiwa menakjubkan. Malaikat Jibril datang, membelah dada beliau, lalu mencuci hati beliau dengan air zamzam di dalam bejana emas, kemudian mengembalikannya. Inilah tanda bahwa Allah sendiri yang menjaga dan menyucikan calon Nabi-Nya.
Namun ujian datang silih berganti. Pada usia enam tahun, ibunda beliau wafat. Beliau lalu diasuh kakeknya. Dua tahun kemudian, sang kakek pun wafat. Akhirnya beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, yang membelanya hingga akhir hayat.
Yatim piatu sejak kecil, namun Allah sendirilah yang mendidik beliau. Penduduk Makkah mengenal beliau dengan gelar yang indah: ash-Shadiq al-Amin. Artinya, yang jujur dan terpercaya.
Ingatlah, anak-anak shalih: menjadi yatim bukanlah penghalang untuk menjadi orang besar.
- Ibu susuan: Tsuwaibah, lalu Halimah as-Sa'diyyah (2 tahun di Bani Sa'ad)
- Usia 4 tahun: peristiwa pembelahan dada oleh Jibril (pendapat yang shahih)
- Usia 6 tahun: ibunda Aminah wafat · Usia 8 tahun: kakek Abdul Muththalib wafat, lalu diasuh Abu Thalib
- Gelar beliau sejak muda: ash-Shadiq al-Amin
Allah berfirman: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?" (QS. Adh-Dhuha: 6). Peristiwa pembelahan dada diriwayatkan dalam hadits shahih (HR. Muslim no. 261 — sebagaimana dinukil dalam Ringkasan Sirah Nabi ﷺ).
- 1Menjadi yatim bukanlah aib dan bukan penghalang menjadi orang hebat — banyak ulama besar seperti Imam asy-Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal juga yatim.
- 2Allah mendidik langsung calon Nabi-Nya: kehilangan demi kehilangan membentuk hati yang lembut dan penyayang kepada kaum lemah.