Bab 20PERIODE MADINAH

Perjanjian Hudaibiyah dan Bai'at Ridhwan

Hudaibiyah · Tahun 6 H (usia 59 tahun)1 menit baca
Dengarkan narasi
0:000:00
Ukuran huruf

Pada tahun keenam Hijriyah, Nabi bersama sekitar seribu empat ratus sahabat berangkat ke Makkah untuk umrah, bukan untuk berperang. Namun Quraisy menghalangi mereka di Hudaibiyah.

Ketika tersiar kabar bahwa utusan kaum muslimin, Utsman bin Affan, dibunuh, Nabi mengumpulkan para sahabat di bawah sebuah pohon, untuk berbai'at siap bertempur sampai mati. Inilah Bai'at Ridhwan, yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an: sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin, ketika mereka berjanji setia di bawah pohon itu.

Kabar itu ternyata tidak benar, dan akhirnya tercapailah Perjanjian Hudaibiyah. Syarat-syaratnya tampak sangat merugikan kaum muslimin. Mereka harus pulang tahun itu tanpa umrah. Umar sampai memprotes. Namun Nabi tetap tenang, menaati perintah Rabbnya.

Dalam perjalanan pulang, turunlah wahyu: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." Dan benar. Masa damai itu membuat dakwah menyebar pesat, melebihi masa-masa sebelumnya.

Perjanjian yang tampak merugikan, ternyata menjadi pintu kemenangan. Pandangan Allah jauh lebih luas daripada pandangan manusia.

  • Tahun 6 H: dihalangi umrah → Bai'at Ridhwan → Perjanjian Hudaibiyah
  • Isi utama: gencatan senjata, kaum muslimin umrah tahun berikutnya
  • Allah menyebutnya "kemenangan yang nyata" (QS. Al-Fath: 1)

QS. Al-Fath: 1 dan 18. Kisah lengkap Hudaibiyah diriwayatkan panjang dalam Shahih Bukhari (no. 2731–2732).

  1. 1Perjanjian yang tampak merugikan bisa jadi pintu kemenangan — pandangan Allah lebih luas dari pandangan manusia.
  2. 2Kesabaran menahan diri kadang lebih berat (dan lebih mulia) daripada berperang.
Uji Pemahaman
5 soal · lulus di nilai 80