
Renovasi Ka'bah dan Peletakan Hajar Aswad
Ketika Nabi berusia tiga puluh lima tahun, kaum Quraisy memperbaiki bangunan Ka'bah yang rusak akibat banjir. Pembangunan berjalan lancar, sampai tiba saatnya meletakkan kembali Hajar Aswad, batu mulia dari surga, ke tempatnya.
Setiap kabilah merasa paling berhak mendapatkan kehormatan itu. Perselisihan memanas, hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Akhirnya mereka bersepakat: orang pertama yang masuk dari pintu masjid akan menjadi penentu keputusan.
Dan lihatlah takdir Allah. Orang pertama yang masuk adalah Muhammad. Serentak mereka berseru gembira, "Ini al-Amin! Ini orang yang terpercaya! Kami ridha kepadanya!"
Dengan kecerdasan yang menakjubkan, beliau membentangkan selembar kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta setiap pemimpin kabilah memegang ujung kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setibanya di tempatnya, beliau sendiri yang meletakkan batu mulia itu.
Semua pihak puas. Tidak ada yang merasa dikalahkan. Sebuah perang besar batal terjadi, berkat kebijaksanaan seorang pemuda yang kelak menjadi Nabi akhir zaman.
- Usia 35 tahun: menjadi penengah perselisihan Quraisy saat pembangunan kembali Ka'bah
- Solusi beliau: Hajar Aswad diletakkan di atas kain, diangkat bersama semua kabilah, lalu beliau yang meletakkannya
- Gelar yang diserukan Quraisy: al-Amin (yang terpercaya)
Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab sirah dan menjadi peristiwa ke-4 dalam ARBAIN Siroh Nabawiyyah, diriwayatkan dengan sanad yang shahih.
- 1Pemimpin sejati mencari solusi yang memuliakan semua pihak, bukan memenangkan satu kelompok.
- 2Kepercayaan masyarakat adalah buah dari kejujuran yang dirawat bertahun-tahun.