
Wahyu Pertama di Gua Hira
Menjelang usia empat puluh tahun, Nabi gemar menyendiri di Gua Hira untuk merenung dan beribadah, menjauh dari penyembahan berhala kaumnya. Hingga pada suatu malam yang mulia di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang dan mendekap beliau seraya berkata, "Iqra'! Bacalah!"
"Aku tidak bisa membaca," jawab beliau. Jibril mendekap beliau hingga tiga kali, lalu membacakan wahyu yang pertama: "Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan."
Beliau pulang dengan tubuh gemetar, dan berkata kepada Khadijah, "Selimuti aku! Selimuti aku!" Khadijah menenangkan beliau dengan kata-kata yang indah, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, memuliakan tamu, dan menolong orang yang kesusahan."
Khadijah lalu membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, seorang yang mengenal kitab-kitab terdahulu. Waraqah menegaskan, yang datang itu adalah malaikat yang pernah turun kepada Nabi Musa.
Sejak malam itu, dimulailah tugas kenabian. Dan lihatlah, wahyu pertama yang Allah turunkan adalah perintah membaca. Islam adalah agama ilmu.
- Usia 40 tahun: diutus menjadi Nabi, turun surat Al-'Alaq di Gua Hira
- Diangkat Nabi dengan surat Al-'Alaq; diangkat Rasul dengan surat Al-Mudatstsir
- Orang pertama yang menenangkan dan beriman: Khadijah
- Pada masa ini diajarkan wudhu dan shalat
Kisah permulaan wahyu diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha secara panjang (HR. Bukhari no. 3 dan Muslim no. 160).
- 1Wahyu Allah dimulai dengan perintah membaca — Islam adalah agama ilmu.
- 2Di balik pengemban risalah yang agung, ada pendamping yang menguatkan; itulah peran Khadijah.