
Hijrah ke Habasyah; Islamnya Hamzah dan Umar
Ketika siksaan semakin berat, Nabi mengizinkan para sahabat berhijrah ke negeri Habasyah, karena di sana ada raja yang adil bernama Najasyi. Rombongan pertama berangkat: dua belas laki-laki dan empat wanita. Lalu menyusul rombongan kedua yang jauh lebih besar.
Kaum Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan membawa hadiah, agar Najasyi mau mengusir kaum muslimin. Di hadapan sang raja, Ja'far bin Abi Thalib berbicara dengan gagah, lalu membacakan awal surat Maryam.
Najasyi menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Ia berkata, "Sesungguhnya ajaran ini dan ajaran yang dibawa Musa, keluar dari pelita yang sama." Ia menolak menyerahkan kaum muslimin.
Di masa-masa sulit itu, Allah menguatkan Islam dengan masuknya dua tokoh perkasa: paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, sang Singa Allah, dan Umar bin Khaththab. Dengan keislaman keduanya, kaum muslimin mulai berani menampakkan ibadah mereka.
Bumi Allah itu luas. Dan pemimpin yang adil menjadi sebab tertolongnya orang-orang beriman.
- Usia 45 tahun: hijrah ke Habasyah — gelombang 1: 12 laki-laki + 4 wanita; gelombang 2: 84 laki-laki + 18 wanita
- Raja Habasyah yang adil: Najasyi (kelak masuk Islam, dishalatkan ghaib)
- Usia 46 tahun: Hamzah dan Umar bin Khaththab masuk Islam
Kisah hijrah Habasyah dan dialog Ja'far di hadapan Najasyi diriwayatkan dengan sanad yang dinilai hasan/shahih oleh para ulama (lihat ARBAIN Siroh Nabawiyyah, peristiwa ke-7). Shalat ghaib untuk Najasyi: HR. Bukhari dan Muslim.
- 1Menyelamatkan agama boleh dengan berpindah negeri; bumi Allah itu luas.
- 2Pemimpin yang adil — meski belum muslim saat itu — menjadi sebab tertolongnya kaum beriman.